Sebuah Film tentang Kerukunan dalam Agama Islam : The Power of Love 212

The Power of LOve : 212

    Sejak peryataan kontroversial mantan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok tentang Surah Al-Maidah ayat 51 gelombang protes umat islam terus berdatangan dari berbagai daerah, meskipun peristiwa ini telah diselesaikan lewat jalur hukum, namun sepertinya ada nilai positif yang bisa diambil dari peristiwa ini yaitu bersatunya umat islam, hal ini ditandai dengan berkumpulnya massa dari berbagai ormas, pribadi bahkan artis dan para ulama yang mengikuti orasi ini pada tanggal 26 Desember 2016. 

      Hal inilah yang mendasari untuk dibuatlah sebuah film tentang peristiwa bersejarah ini yang mengumpulkan begitu banyak massa sampai hari itu kota Jakarta memutih, Aksi ini bahkan sampai diliput oleh media luar negeri yang kagum akan ketertiban dari orasi ini, bisa dibayangkan jika massa yang begitu banyak berkumpul tanpa ada gesekan dan tanpa meninggalkan sampah yang menggunung seperti orasi sebelumnya.

      Karena itulah Film The Power of Love : 212 dibuat, meskipun banyak pihak yang mendukung namun tidak sedikit pula yang mencibir bahwa film ini dibuat untuk memprovokasi umat agama lain, hal ini mengindikasikan bahwa pola pikir Warga Negara Indonesia masih labil dalam mengamati suatu fenomena massal. 
     
      Disutradarai oleh Jastis Arimba dan dibintangi oleh Fauzi Baadila sebagai aktor utama berikut sinopsis film ini.

Rahmat (30th), seorang jurnalis di Majalah Republik. Selama ini Rahmat tinggal sendiri di Jakarta, sikapnya yang dingin dan cenderung sinis membuat ia tidak memiliki banyak teman, kecuali Adhin (29th) seorang fotografer yang menjadi satu satunya sahabat. Suatu ketika Rahmat mendapat kabar bahwa ibunya meninggal dunia, ia pun harus pulang ke rumahnya di Ciamis, rumah yang telah 10 tahun ia tinggalkan dan belum pernah satu kalipun kembali karena permasalahan di masa lalu. 
Di Ciamis Rahmat bertemu kembali dengan Yasna (25th) seorang gadis cantik, sahabat kecil yang diam-diam masih ia kagumi hingga saat ini. Usai pemakaman Rahmat bermaksud kembali ke Jakarta, namun dia mendapat berita bahwa ayahnya Ki Zanal (60th) akan melakukan longmarch bersama para santri dari Ciamis untuk mengikuti aksi pada tanggal 2 Desember 2016 di Jakarta yang dikenal dengan aksi bela Islam 212. 
Hubungan Rahmat dan Ki Zainal diketahui sangat tidak harmonis, bahkan Ki Zainal menganggap Rahmat adalah sosok pengecut yang tidak bertanggung jawab dan hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri. Walau Ki Zainal bersikeras, Rahmat terus berupaya menghentikan niat ayahnya tersebut, karena menurutnya itu tindakan konyol dan aksi 212 tak lebih dari aksi politis yang ditunggangi dan akan memicu kerusuhan serta jatuhnya korban jiwa seperti yang terjadi pada peristiwa aksi 98. 
Berhasilkah Rahmat menggagalkan niat ayahnya tersebut, atau justru terjebak dalam aksi tersebut? Lalu bagaimanakah akhir hubungan antara Rahmat, Yasna dan ayahnya ? Mampukah ia berdamai dengan masa lalunya?

Meskipun film ini sudah lama ditayangkan namun akan ada sekuel yang akan menyambung dari film ini, belum ada bocoran kapan akan ditayangkan tapi film ini patut ditunggu.
berikut sekuelnya yang berjudul Hayya.

Hasil gambar untuk film hayya

Ok Sobat movie lovers itulah sedikit ulasan dari kancah perfilman indonesia yang mengangkat film berdasarkan kisah nyata, ditunggu komentar dan masukannya.
terima kasih 😊
















0 Response to "Sebuah Film tentang Kerukunan dalam Agama Islam : The Power of Love 212"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel